Spotify Menurut Saya...

Image
Saya sudah kenal musik dari jaman SD. Ayah saya suka dengan musik, jadi musik selalu hadir di hari-hari saya. Dulu masih menggunakan kaset, lalu berkembang ke CD, ada variannya VCD, DVD, dan yang bajakan melalui MP3 pun banyak. Perkembangan pemutar musik pun ikut berubah. Dari yang awalnya radio-tape, lalu Walkman, MP3 player, iPod, dan sekarang banyak disematkan aplikasi pemutar musik di ponsel yang kita gunakan. Karenanya, dulu setiap berangkat atau pulang kerja, musik selalu menemani saya selama perjalanan. Karena dulu saya pengguna angkutan umum, sehingga musik menjadi teman perjalanan saya.

Sekarang ini selain pemutar musik yang disematkan di ponsel, yang mana kita harus memasukkan lagu-lagu andalan kita ke ponsel, muncul aplikasi pemutar musik yang memiliki beragam lagu secara daring alias online dan kita bisa langsung mendengarkannya dengan bantuan koneksi internet. Sebut saja aplikasi Joox, Spotify, Apple Music,  Deezer, dan masih banyak lainnya. Namun dari beragam macam aplik…

Lihat Instagram

Lagi-lagi Pahit...

Senin lalu, 20 Okt 2008, sehabis pulang kerja shift pagi, saya langsung jalan ke kosan temen saya. Ya, biasa sih. Dah ketemuan, banyak ngobrol-ngobrol, curhat, dan banyak makanan yg pasti. He he... Tapi saking betahnya, saya sampai mesti pulang jam 9 malam lewat.

Kalau dipikir, memang gak terlalu malam juga sih. Tapi, yg jadi masalah adalah, karena saya gak bawa kendaraan bermotor, dan besok saya mesti kerja shift pagi lagi. Jadilah saya memaksakan pulang jam 9 malam. Dari awal saya sudah yakin kalau setelah sampai terminal Rawamangun, pasti sudah gak ada lagi metromini 46/49 yg lewat Utan Kayu. Benar saja, sampai jam 9.45 malam, saya gak nemuin tuh metromini. Jadilah saya berinisiatif untuk naik taksi.

Yup, taksi. Memang mungkin terdengar terlalu sok untuk seorang saya yg hanya pekerja toko. Tapi, taksi memiliki kenyamanan yg lebih dibanding saya mesti naik bajaj. Toh, ongkos taksi dari terminal Rawamangun ke Utan Kayu saya yakin ga lebih dari Rp 50.000. Dengan waspada, setiap detik saya selalu lirik argo taksi. Bagus, semua terkendali karena sampai depan gang rumah saya di Utan Kayu, argo taksi menunjukkan angka Rp 10.500. Pas seperti estimasi saya.

Setelah saya lihat dompet, saya berfikir untuk membayar dengan recehan (baca: uang ribuan). Tapi karena kalau dibayar, besoknya saya gak punya recehan untuk naik angkot ke tempat kerja. Jadilah saya mengeluarkan lembar biru Rp 50.000 yg tinggal satu-satunya ada di dompet. Sekalian niat nge-recehin duit. Eh, sialnya. Tuh supir taksi malah ngembaliin duit sebanyak Rp 35.000 saja. Padahal mestinya Rp 39.500 kan? Dan dengan santainya doi menjawab, ya ga ada receh Bang, gapapalah ya?

Gubrak! Dengan hati pasrah dan gondok, saya keluar taksi dengan lunglai tapi juga bergegas agar cepat sampai rumah. Di perjalanan saya cuma berdoa supaya saya diberi kelapangan dada agar mengikhlaskan uang yg saya berikan ke supir itu, agar menjadi baik buat saya dan supir taksi. Dan setelah saya cek di rumah, ternyata uang receh saya masih cukup untuk bayar taksi dan ongkos esok harinya. Yah, memang pengalaman pahit membuat orang menjadi lebih baik. He he he...

19:46 22/10/2008

Comments

Popular posts from this blog

Kartu Member

Modus Penipuan Pembeli Online

Body Art